LEBAK, ArtistikNews.com – Tidak ada panggung. Tidak ada pengeras suara. Pagi itu, aparat Desa Sindangwangi hanya menyiapkan satu hal: beras dan daftar nama.
Satu per satu, nama dipanggil. Warga datang, mengambil jatah, lalu pulang. Tidak bersamaan. Tidak tergesa. Pola ini sengaja dipilih agar suasana tetap terkendali.
Jumlahnya tidak sedikit. Ada 362 keluarga yang masuk dalam catatan desa. Masing-masing membawa pulang 10 kilogram beras sebagai cadangan kebutuhan rumah tangga.
Petugas dari PT Pos Cipanas berdiri di sisi timbangan. Mereka memastikan setiap karung sesuai ukuran sebelum berpindah tangan. Aparat desa ikut mengawasi agar tidak ada selisih.
Kepala Desa Sindangwangi, Aup Marup, memilih tetap berada di lokasi. Ia tidak sekadar memantau, tetapi juga memastikan data dan barang benar-benar cocok.
“Yang kami jaga itu kejelasan. Nama cocok, jumlah cocok, selesai,” ucapnya singkat.
Bagi pemerintah desa, beras ini bukan sekadar bantuan. Ini penyangga sementara bagi keluarga yang penghasilannya tidak selalu pasti. Karena itu, desa memilih jalur rapi ketimbang cepat.
Respons warga datang tanpa banyak kata. Salah satu penerima hanya mengangguk sambil mengangkat karung berasnya.
“Lumayan. Bisa tahan beberapa hari,” ujarnya.
Ketika nama terakhir selesai dipanggil, kegiatan berhenti. Tidak ada sisa antrean. Tidak ada keributan. Aparat desa kembali ke meja kerja, menyusun ulang catatan sebagai arsip. Warga pulang, masing-masing membawa kebutuhan paling dasar: beras. (Red)
