JAKARTA, ArtistikNews.com – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa Indonesia harus memperkuat peran kampus untuk mempercepat inovasi dan hilirisasi teknologi pertanian, seiring dengan meningkatnya stok beras nasional.Minggu (12/4/2026).
Ia menyampaikan hal tersebut saat menghadiri Idul Fitri FunFest 2026 yang digelar Ikatan Alumni Institut Teknologi Sepuluh Nopember (IKA ITS) di Jakarta, Sabtu (11/4).
Dalam sambutannya, Amran menekankan bahwa Indonesia berhasil mencapai swasembada pangan di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Selain itu, ia juga menyoroti lonjakan produksi beras nasional yang signifikan dalam beberapa waktu terakhir.
“Sekarang, bulan ini, insya Allah, 5 juta ton beras kita. Ini tidak pernah terjadi selama Indonesia merdeka,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa peningkatan produksi tersebut membuat Indonesia tidak lagi bergantung pada impor. Oleh karena itu, kondisi ini juga memberikan dampak terhadap pasar global.
“Dulu kita impor 7 juta ton beras. Sekarang kita tidak impor. Dampaknya, harga pangan dunia turun,” jelasnya.
Di sisi lain, Amran menegaskan bahwa keberhasilan tersebut tidak berdiri sendiri. Sebaliknya, seluruh elemen bangsa turut berkontribusi dalam pencapaian ini.
“Ini kerja kita semua. Ini kerja bersama. Bukan saya,” tegasnya.
Namun demikian, Amran mengingatkan bahwa tantangan ke depan tidak hanya berkaitan dengan produksi. Ia menilai kampus perlu mengambil peran lebih konkret dalam menerapkan hasil riset.
“Kampus harus hadir dengan aksi nyata, bukan seremoni,” ungkapnya.
Selanjutnya, ia menilai bahwa kampus sudah memiliki kekuatan riset yang baik. Akan tetapi, kampus masih menghadapi kendala dalam mengkomunikasikan inovasi dan menyesuaikannya dengan kebutuhan pasar.
“Kelemahan kita di kampus adalah tidak mampu mengkomunikasikan apa yang kita ciptakan dan harus melihat pasar,” ujarnya.
ITS Didorong Produksi Teknologi Pertanian
Selain itu, Amran mendorong Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) untuk memperluas perannya dalam menghasilkan teknologi yang dapat langsung dimanfaatkan masyarakat. Misalnya, kampus dapat mengembangkan alat dan mesin pertanian hingga kendaraan listrik berbasis kebutuhan lapangan.
“Kita ingin ke depan, yang mensuplai, traktor, alat pertanian, itu dari ITS. Pasti bisa,” tegasnya.
Sebagai contoh, ia menyoroti pengembangan traktor perahu yang telah dibuat ITS. Ia berharap inovasi tersebut terus disempurnakan dan segera diproduksi secara massal.
“Traktor, apa namanya itu? Oh ini sudah jadi ya? Nah ini traktor perahu. Sudah, diperbaiki terus, rekayasa kita adakan,” ungkapnya.
Lebih jauh, Amran menegaskan bahwa pemerintah siap mendukung inovasi dalam negeri. Bahkan, pemerintah akan menyerap produk tersebut selama kampus mampu menjaga kualitas dan kapasitas produksi.
“Kami ingin ITS terdepan. Bisa ya?” jelasnya.
Perkuat Kolaborasi Antar Kampus
Di samping itu, Amran juga menekankan pentingnya kolaborasi antarperguruan tinggi. Ia mengajak semua institusi untuk mengesampingkan sekat dan bekerja bersama demi kepentingan nasional.
“Kita sama-sama, gandengan tangan. Enggak ada istilah Unhas, IPB, ITS. kita harus kolaborasi, demi Merah Putih,” ujarnya.
Sebagai penutup, ia mengajak kampus dan alumni untuk fokus pada hilirisasi riset yang sesuai dengan kebutuhan negara. Dengan demikian, inovasi yang dihasilkan dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
“Ayo kita bergerak di hilirisasi, meneliti sesuai kebutuhan negara,” pungkasnya.
