SOLO, ArtistikNews.com – Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) RI mendorong pembangunan olahraga inklusif dan ramah disabilitas. Salah satu langkahnya yaitu menggelar Training of Trainers (ToT) Master dan Manajemen Talenta Olahraga Disabilitas pada 21-23 April 2026 di Kota Surakarta.Rabu (22/4/2026).
Program ini melibatkan 30 atlet elite internasional sebagai pionir. Selain itu, Deputi Bidang Pembudayaan Olahraga Kemenpora, Sri Wahyuni, membuka kegiatan secara daring bersama jajaran terkait.
Kolaborasi Jadi Kekuatan Program
Kegiatan ini melibatkan banyak pemangku kepentingan. Sekjen NPC Pusat Ukun Rakendi, perwakilan NPCI Jawa Tengah Suwarno, Ketua NPCI Surakarta Bangun Sugitu, serta tim pakar Universitas Sebelas Maret (UNS) turut hadir.
Selain itu, kolaborasi antara akademisi dan praktisi memperkuat kualitas pelatihan. Dengan demikian, peserta mendapatkan materi yang lebih aplikatif.
Dalam sambutannya, Sri Wahyuni menegaskan bahwa pengembangan olahraga disabilitas merupakan amanat konstitusi. Oleh karena itu, negara harus menjamin kesetaraan akses olahraga.
“Peserta ToT ini dipersiapkan untuk menjadi agen perubahan, pelatih, pendamping, sekaligus motivator bagi masyarakat disabilitas di daerahnya masing-masing. Keberhasilan program ini akan diukur dari seberapa jauh ilmu yang didapat mampu dipraktikkan untuk mencetak atlet tangguh, menemukan talenta baru, dan membangun masyarakat yang inklusif,” papar Deputi Sri Wahyuni.
Targetkan 300 Pelatih Bersertifikat
Selanjutnya, Asisten Deputi Olahraga Layanan Khusus Dadi Surjadi menjelaskan fokus program. Ia menyebut ToT perdana ini menyasar pelatih dan pemangku kepentingan olahraga disabilitas.
“Didukung penuh oleh kolaborasi akademisi UNS dan praktisi NPC Indonesia, para peserta yang telah lulus seleksi komprehensif ini digembleng agar siap menjadi motor penggerak olahraga disabilitas di akar rumput,” ujarnya.
Di sisi lain, Tenaga Ahli Menpora Heru Komarudin memaparkan Program BERDAYA. Ia menyoroti tingkat partisipasi olahraga disabilitas yang masih 11,6 persen.
Karena itu, Kemenpora menargetkan 300 pelatih bersertifikat. “Para pelatih ini nantinya akan diterjunkan kembali ke daerah masing-masing dengan misi melatih minimal 10 orang di komunitasnya. Dengan efek ganda ini, kita berharap mampu menjangkau lebih dari 6.000 penerima manfaat dan menciptakan ekosistem olahraga yang benar-benar inklusif,” jelas Heru.
Klasifikasi Jadi Dasar Keadilan Kompetisi
Pada sesi materi, Dr. dr. Retno Setianing dari NPC Indonesia menjelaskan klasifikasi dan penanganan disabilitas. Ia menekankan pentingnya sistem klasifikasi dalam kompetisi.
Menurutnya, proses evaluasi memastikan keadilan. Atlet menang karena kemampuan, kekuatan, dan strategi. Bukan karena tingkat keterbatasan fisik.
Sumber: kemenpora.go.id
