Posted in

Peran Strategis Industri AMDK Kian Diperkuat, Fokus Keberlanjutan dan Regulasi Jadi Sorotan

Foto: Kunjungan kerja Komisi VII DPR RI ke industri AMDK dalam rangka penguatan peran strategis dan keberlanjutan sektor air minum dalam kemasan di Indonesia (Sumber: kemenperin.go.id)

JAKARTA, ArtistikNews.com – Industri Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) terus menunjukkan peran strategis. Sektor ini tidak hanya memenuhi kebutuhan dasar masyarakat. Industri ini juga mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Sabtu (18/4/2026).

Kontribusi Nyata bagi Ekonomi dan Kebutuhan Dasar

Industri AMDK menjawab kebutuhan masyarakat akan air minum yang aman dan berkualitas. Sektor ini juga menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Selain itu, industri ini memperluas distribusi air secara merata.

Peran tersebut menempatkan industri AMDK sebagai bagian penting dalam ekosistem industri nasional. Kontribusinya terus meningkat dari waktu ke waktu.

Berdasarkan data industri, saat ini terdapat 707 pabrik AMDK. Kapasitas total mencapai 47 miliar liter per tahun. Nilai investasinya mencapai Rp27,8 triliun.

“Industri AMDK memiliki peran penting dalam menjaga ketersediaan air minum yang aman bagi masyarakat sekaligus memberikan kontribusi nyata pada perekonomian nasional. Karena itu, pengembangannya harus terus dipacu dengan prinsip keberlanjutan dan kepatuhan regulasi,” ungkap Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam keterangannya di Jakarta.

Pengelolaan Sumber Daya Air Jadi Perhatian

Industri AMDK memanfaatkan berbagai sumber daya air. Sumber tersebut meliputi air permukaan sebesar 7,09 miliar liter. Air tanah mencapai 41,08 miliar liter. Selain itu, industri juga menggunakan 6,93 miliar liter dari perusahaan penyedia air.

Total penggunaan air mencapai 55,1 miliar liter per tahun. Angka ini setara dengan 0,055 miliar meter kubik per tahun.

Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Putu Juli Ardika menjelaskan hal tersebut. Ia menyebut pemanfaatan air tanah, termasuk dari perusahaan penyedia air, mencapai 48,01 miliar liter per tahun. Nilai itu setara 0,048 miliar meter kubik per tahun.

Angka tersebut hanya sekitar 0,23 persen dari kapasitas air tanah pada akuifer tertekan di Indonesia. Hal ini menunjukkan penggunaan air masih dalam batas yang terkontrol.

Implementasi Keberlanjutan di Industri

Industri AMDK terus mendorong keberlanjutan. Fokus utama mencakup pengelolaan sumber daya air dan kepatuhan regulasi. Upaya ini menjadi prioritas dalam pengembangan industri.

Komisi VII DPR RI melakukan Kunjungan Kerja Spesifik. Kegiatan ini berlangsung di PT Tirta Alam Segar di Cikarang dan PT Tirta Investama di Klaten. Kunjungan ini bertujuan meninjau implementasi di lapangan.

PT Tirta Alam Segar merupakan bagian dari Wings Group. Perusahaan ini memproduksi AMDK merek AQUVIVA. Kapasitas produksinya mencapai 50 juta botol per bulan.

Perusahaan ini menyerap 2.800 tenaga kerja. Lebih dari 90 persen pekerja berasal dari masyarakat lokal. Hal ini memperkuat ekonomi daerah sekitar.

Perusahaan juga menjalankan berbagai inisiatif keberlanjutan. Salah satunya pembangunan PLTS Atap berkapasitas 10,8 MWp. Program ini mampu mengurangi 15.078 ton emisi CO2 per tahun.

Perusahaan juga menggunakan teknologi Reverse Osmosis. Teknologi ini mengolah kembali air limbah. Efisiensi penghematan air mencapai 20–30 persen.

Selain itu, perusahaan menyediakan 24 titik Reverse Vending Machine (RVM). Program ini berjalan melalui kerja sama dengan Plasticpay. Langkah ini mendukung pengendalian limbah plastik.

Kepatuhan Regulasi dan Standar Nasional

Industri AMDK menjalankan operasional sesuai regulasi. Aturan tersebut mengacu pada Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2019 tentang Sumber Daya Air. Industri juga mengikuti aturan turunan lainnya.

Peraturan tersebut meliputi Peraturan Menteri ESDM Nomor 14 Tahun 2024. Selain itu, terdapat Permen PUPR Nomor 2 Tahun 2024. Semua aturan ini mengikat operasional industri.

Produk AMDK masuk dalam kategori Standar Nasional Indonesia (SNI) Wajib. Lembaga Sertifikasi Produk melakukan pengawasan secara berkala. Sistem e-Wasdal juga mendukung proses pengawasan ini.

Langkah tersebut memastikan kualitas dan keamanan produk. Masyarakat pun dapat mengonsumsi air dengan aman.

Sinergi untuk Masa Depan Industri

Komisi VII DPR RI melakukan kunjungan kerja spesifik. Kegiatan ini bertujuan mengkaji kepatuhan industri. Fokusnya mencakup perizinan, lingkungan, dan pengelolaan air.

Selain itu, DPR juga menilai kualitas produk yang dihasilkan industri. Evaluasi ini penting untuk menjaga standar nasional.

“Kedepan, kami harap sinergi antara pemerintah, industri, dan masyarakat dapat dijalin dengan lebih kuat sebagai upaya kita dalam menjaga keberlanjutan industri AMDK, khususnya dalam pengelolaan sumber daya air dan pengendalian limbah plastik,” tutup Putu.

Sumber: kemenperin.go.id.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Konten ini dilindungi. Kalau mau pakai atau mengutip, silakan izin dulu ya