Posted in

Dari Pelatihan ke Gerakan Ekonomi Desa, Kementerian Kehutanan Dorong Aren Jadi Sumber Kemandirian Energi

Foto: Peserta Training of Trainers (ToT) Aren Kementerian Kehutanan melakukan praktik pembibitan dan pengolahan aren di Tomohon, Sulawesi Utara. Kegiatan ini merupakan bagian dari penguatan ketahanan pangan dan energi berbasis hasil hutan bukan kayu. (Sumber: kehutanan.go.id)

TOMOHON SULSEL, ArtistikNews.com– Kementerian Kehutanan memperkuat arah pengembangan komoditas aren sebagai bagian dari strategi ketahanan pangan dan energi nasional. Program ini tidak lagi berhenti pada pelatihan teknis, tetapi mulai diarahkan menjadi gerakan ekonomi berbasis masyarakat di daerah. Sabtu (18/4/2026). 

Langkah tersebut diwujudkan melalui Training of Trainers (ToT) Aren tahap kedua yang digelar di Tomohon, Sulawesi Utara, pada 13-17 April 2026. Kegiatan ini melibatkan kerja sama antara Pusat Data dan Informasi Kehutanan, Pusat Penyuluhan Kehutanan, serta Yayasan Masarang, dengan dukungan pendanaan FOLU Net Sink dan Pertamina.

Fokus Beralih ke Implementasi Lapangan

Berbeda dari tahap awal, pelatihan lanjutan ini menempatkan praktik lapangan sebagai pusat pembelajaran. Kementerian ingin memastikan peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menerapkan langsung di wilayah kerja masing-masing.

Lima belas peserta dari berbagai daerah kembali mengikuti pelatihan ini setelah sebelumnya menyelesaikan tahap pertama di Desa Bojong, Garut. Mereka mendapatkan pendalaman teknis mulai dari hulu hingga hilir pengelolaan aren.

Materi yang diberikan mencakup inventarisasi pohon aren, teknik perkecambahan, pembibitan, hingga pengolahan limbah menjadi biochar sebagai pupuk organik. Peserta juga melihat langsung proses produksi gula aren di pabrik Masarang serta penerapan teknologi pipanisasi dan tungku roket di lapangan.

Aren Didorong Jadi Komoditas Strategis

Kementerian Kehutanan menilai aren memiliki potensi besar sebagai sumber pangan sekaligus energi terbarukan. Komoditas ini dianggap mampu memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat jika dikelola secara berkelanjutan.

Program ini juga menjadi bagian dari implementasi Asta Cita kedua Presiden Prabowo yang menitikberatkan pada ketahanan pangan dan kemandirian energi nasional.

Wilhelmus Theodorus Maria Smits atau Pak Willie selaku Penasihat Utama Menteri Kehutanan Bidang Lingkungan dan Ekologi sekaligus Ketua Satgas Aren menegaskan pentingnya peran peserta sebagai penggerak di daerah.

“Saya harap dengan adanya training of the trainers kali ini para penyuluh dapat mengajarkan kepada yang lainnya mengenai aren dan memelihara keberlanjutan program,” ujar Pak Willie pada penutupan acara.

Dampak Langsung bagi Pelaku Lapangan

Pendekatan praktik yang diterapkan dalam pelatihan ini memberi dampak langsung bagi peserta yang selama ini berhadapan dengan keterbatasan teknis di lapangan. Mereka tidak hanya menerima materi, tetapi juga berdiskusi dan melihat contoh nyata pengelolaan aren.

Rusni, peserta asal Majene yang aktif mengembangkan persemaian aren secara mandiri, mengaku mendapatkan banyak wawasan baru dari kegiatan ini.

“Aren itu merupakan tanaman ajaib dan saya sangat berterima kasih dengan adanya kegiatan ini. Sekarang saya mendapatkan ilmu baru entah dari lapangan maupun diskusi dengan teman-teman penyuluh lainnya mengenai banyak hal yang sebelumnya tidak terpikirkan oleh saya,” tutur Rusni.

Penyuluh Jadi Kunci Implementasi Kebijakan

Selain pelaku budidaya, penyuluh kehutanan juga memegang peran penting dalam memastikan program berjalan di tingkat daerah. Pelatihan ini membantu mereka menjembatani kebijakan nasional dengan kondisi lapangan.

Nawir, salah satu peserta yang mewakili unsur penyuluh, menilai pelatihan ini memberikan panduan konkret untuk menjalankan program pemerintah.

“Sebagai penyuluh, sudah semestinya kita mendukung program yang dibuat oleh Presiden Prabowo melalui implementasi Asta Cita kedua. Namun kita terkadang tidak mengetahui cara implementasi hal tersebut. Untungnya terdapat pelatihan ini yang menjadi panduan dasar kami di lapangan,” kata Nawir.

Menuju Ekosistem Aren Berkelanjutan

Kementerian Kehutanan menegaskan bahwa ToT Aren tidak hanya berorientasi pada peningkatan kapasitas individu, tetapi juga pada pembentukan ekosistem produksi yang berkelanjutan di tingkat desa.

Dengan terbentuknya jejaring penyuluh dan pelaku lapangan, pemerintah berharap transfer pengetahuan dapat berlangsung lebih cepat dan luas. Hal ini dinilai penting untuk mempercepat pengembangan ekonomi berbasis aren di berbagai daerah Indonesia.

Ke depan, program ini diarahkan untuk memperkuat rantai nilai aren, mulai dari budidaya hingga pengolahan, sehingga memberikan dampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat sekaligus mendukung target kemandirian energi nasional

Sumber: kehutanan.go.id.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page