ArtistikNews
Posted in

Pasokan Air PDAM Muncang Mati 10 Hari, Warga Terpaksa Gunakan Air Sungai untuk Kebutuhan Sehari-hari

Pasokan Air PDAM Muncang Mati 10 Hari, Warga Terpaksa Gunakan Air Sungai untuk Kebutuhan Sehari-hari
Warga Kecamatan Muncang mengambil air dari sungai setelah pasokan air PDAM mati selama sekitar 10 hari dan mengganggu kebutuhan sehari-hari. (Istimewa)

LEBAK, ARTISTIKNEWS.COM – Gangguan layanan air bersih kembali dikeluhkan warga Kecamatan Muncang, Kabupaten Lebak. Pasokan air PDAM dilaporkan berhenti mengalir selama sekitar 10 hari hingga Jumat (24/10/2025), sehingga masyarakat mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kondisi tersebut memaksa sebagian warga mencari alternatif lain. Sejumlah warga bahkan harus mendatangi sungai untuk mengambil air yang digunakan untuk mandi, mencuci pakaian, hingga kebutuhan rumah tangga lainnya.

Warga Cari Alternatif Saat Air Tidak Mengalir

Terhentinya distribusi air membuat aktivitas harian masyarakat ikut terdampak. Warga yang selama ini mengandalkan pasokan PDAM harus menyesuaikan kebiasaan mereka dengan kondisi yang ada.

NL, salah satu warga Kecamatan Muncang, mengaku merasakan dampak langsung dari gangguan layanan tersebut. Menurutnya, aktivitas sehari-hari menjadi lebih sulit karena tidak ada pasokan air yang masuk ke rumah warga.

“Sudah sepuluh hari ini air PDAM mati total. Kami terpaksa ke sungai untuk mandi dan mencuci. Petugas PDAM bilang mesinnya terbakar,” ungkap NL.

Situasi itu membuat warga harus mengeluarkan tenaga lebih untuk memenuhi kebutuhan dasar yang sebelumnya bisa diperoleh langsung dari saluran air rumah.

Selain itu, kondisi tersebut juga memengaruhi kenyamanan masyarakat dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

Warga Sebut Gangguan Bukan Pertama Kali Terjadi

Keluhan juga datang dari warga lain yang mengaku pernah mengalami kondisi serupa sebelumnya.

Hasan, warga Kecamatan Muncang lainnya, mengatakan gangguan distribusi air bukan kali pertama terjadi di wilayah tersebut. Ia menyebut persoalan serupa juga pernah muncul beberapa bulan sebelumnya.

Menurutnya, pada Agustus lalu pasokan air sempat tidak mengalir dalam waktu cukup lama.

“Meteran tidak bergerak karena air mati, tapi tagihan tetap ada. Apa kami membayar angin?” keluh Hasan.

Pernyataan itu menggambarkan kekecewaan warga yang merasa tetap menanggung beban tagihan meski layanan tidak berjalan normal. Kondisi tersebut membuat sebagian masyarakat mempertanyakan kualitas pelayanan yang mereka terima.

Terbaru Lainnya

Artikel Pilihan

```

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Konten ini dilindungi. Kalau mau pakai atau mengutip, silakan izin dulu ya

error: Content is protected !!