Bahas Penguatan Ketangguhan Masyarakat
Pertemuan Ilmiah Tahunan Riset Kebencanaan ke-9 Tahun 2026 mengusung tema “Penguatan Tata Kelola Risiko Bencana untuk Ketangguhan”. Forum tersebut membahas sejumlah isu strategis terkait kebencanaan.
Peserta membahas penguatan tata kelola risiko bencana, integrasi pengurangan risiko bencana dalam pembangunan nasional, serta peningkatan kemampuan adaptasi masyarakat terhadap perubahan iklim.
Ketua Umum IABI Harkunti P. Rahayu membuka kegiatan tersebut. Ia menekankan pentingnya kesiapan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana.
Menurut Harkunti, risiko bencana tidak hanya dipengaruhi faktor alam. Kebijakan pembangunan, tata kelola wilayah, dan kemampuan masyarakat juga ikut menentukan tingkat risiko bencana.
Refleksi 20 Tahun Gempa Yogyakarta
Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari itu diikuti sekitar 500 peserta. Peserta berasal dari unsur pemerintah, akademisi, dunia usaha, relawan, dan organisasi masyarakat.
Forum tersebut menghadirkan berbagai agenda. Kegiatan itu meliputi diskusi ilmiah, knowledge sharing, pelatihan peta risiko bencana, hingga forum pengurangan risiko bencana nasional.
Panitia juga menghadirkan refleksi 20 tahun Gempa Yogyakarta 2006. Momentum itu menjadi bagian penting dalam sejarah penanggulangan bencana di Indonesia.
Peristiwa tersebut melahirkan praktik Build Back Better. Selain itu, budaya gotong royong masyarakat Yogyakarta juga menjadi perhatian dunia internasional.
Andre menilai pengalaman penanganan Gempa Yogyakarta memberi banyak pelajaran penting. Pengalaman itu memperkuat sistem mitigasi dan rehabilitasi bencana di Indonesia.
Ia menambahkan penguatan budaya riset dan pengembangan teknologi harus terus berjalan. Menurutnya, kerja sama lintas sektor menjadi kunci dalam membangun ketangguhan jangka panjang.
“Forum ini diharapkan mampu menghasilkan langkah konkret untuk memperkuat sinergi menuju Indonesia yang lebih tangguh dan berkelanjutan,” pungkasnya. (Sumber: kemenkopmk.go.id).
