JAKARTA, ARTISTIKNEWS.com – Persoalan anak tidak sekolah masih menjadi tantangan serius di Indonesia. Data menunjukkan lebih dari empat juta anak usia 7 hingga 18 tahun belum mengenyam pendidikan secara optimal, baik karena putus sekolah maupun berisiko meninggalkan bangku pendidikan. Kondisi ini menunjukkan perlunya langkah konkret dan terarah untuk memperluas akses pendidikan secara merata. Minggu (3/5/2026).
Badan Pusat Statistik mencatat masih banyak anak yang belum tersentuh layanan pendidikan. Tren ini bahkan cenderung meningkat pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Situasi tersebut menjadi perhatian pemerintah untuk menghadirkan kebijakan yang mampu menjangkau kelompok paling rentan.
Pendekatan Keluarga Jadi Kunci
Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menilai penanganan masalah ini tidak cukup hanya menyasar anak, tetapi juga harus menyentuh lingkungan keluarga. Menurutnya, pendekatan menyeluruh menjadi strategi utama dalam memutus rantai kemiskinan yang berdampak pada pendidikan.
“Sekolah Rakyat ini adalah bagian dari strategi besar pengentasan kemiskinan. Kita tidak hanya mengintervensi anaknya, tapi juga keluarganya. Harapannya, ketika anaknya lulus, keluarganya juga ikut naik kelas,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa banyak anak yang belum terdata dalam sistem pendidikan. Kondisi ini membuat mereka sulit dijangkau oleh program pemerintah.
“Ada jutaan anak yang tidak terlihat dalam sistem. Mereka ini invisible people. Bisa jadi ada di sekitar kita, tapi tidak tersentuh program,” kata Gus Ipul.
Sekolah Rakyat untuk Pemerataan
Program Sekolah Rakyat dinilai menjadi salah satu solusi untuk menjangkau kelompok masyarakat di lapisan bawah. Program ini diharapkan mampu memperkecil kesenjangan pendidikan secara bertahap.
“Kalau kita bicara standar pendidikan yang baik, tentu tinggi. Tapi bagaimana semua bisa naik ke sana? Jawabannya gotong royong. Sekolah Rakyat ini menjadi instrumen untuk mengangkat dari bawah,” tegasnya.
Di sisi lain, perkembangan teknologi juga menghadirkan tantangan baru. Anak-anak Indonesia memang tumbuh sebagai generasi digital, namun akses dan kesiapan belum merata.
“Kita tidak punya banyak pilihan selain beradaptasi dengan teknologi. Tapi dengan keterbatasan anggaran, gotong royong menjadi keharusan. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri,” ungkapnya.
Halaman Lanjutan: 1 2
Berita Terbaru

Rapimcab GRIB Jaya Lebak Perkuat Soliditas Organisasi dan Tindak Lanjuti Hasil Rakercab

Warga Kampung Palendeng Swadaya Bangun Jalan Cor, Apresiasi Bantuan Alat Berat PUPR Lebak

KPK Tahan Bupati Sukoharjo dan Dua Pejabat, Dugaan Pemerasan Capai Miliaran Rupiah

Belgia Tersingkir di Piala Dunia 2026, Generasi Baru Red Devils Mulai Bersinar

Prancis Lolos ke Semifinal Piala Dunia 2026 Usai Kalahkan Maroko 2-0

Prabowo Optimistis Indonesia Jadi Lumbung Pangan Dunia, Resmikan Lima Bendungan

Mahasiswa Cipayung Plus Lebak Desak Transparansi Anggaran Pembangunan KDMP

GRIB Jaya DPC Lebak Beri Edukasi Hukum kepada Warga yang Mengadu Dugaan Ancaman

Airlangga IPO Berlanjut Perkuat Kepercayaan Investor terhadap Pasar Modal Indonesia

Gempa M 5,5 Guncang Perairan Sumur, BMKG Tegaskan Tidak Berpotensi Tsunami

400 Kepala Keluarga di Kampung Palendeng Galang Swadaya untuk Cor Jalan Kadu Edan













