JAKARTA | ARTISTIKNEWS.COM – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bersama Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) memperkuat pencegahan ekstremisme berbasis kekerasan di satuan pendidikan melalui penguatan peran sekolah, keluarga, pendidik, tenaga kependidikan, dan masyarakat di Jakarta, Kamis (3/9/2026).
Upaya menciptakan lingkungan pendidikan yang aman kembali mendapat perhatian pemerintah. Kemendikdasmen dan BNPT mendorong keterlibatan berbagai unsur pendidikan untuk mencegah anak terpapar paham ekstremisme berbasis kekerasan yang mengarah pada terorisme.
Langkah tersebut mereka bahas melalui kegiatan Penguatan Peran Komite Sekolah, Pendidik, dan Tenaga Kependidikan dalam Pencegahan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme di Satuan Pendidikan.
Kegiatan itu berlangsung di Jakarta pada Rabu (2/9). Forum tersebut menjadi bagian dari upaya membangun komitmen bersama agar sekolah mampu menyediakan ruang yang aman bagi proses belajar dan perkembangan anak.
Kemendikdasmen Dorong Sekolah Aman dan Nyaman
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menilai kolaborasi berbagai pihak sangat penting. Menurutnya, anak membutuhkan lingkungan yang aman agar dapat tumbuh dengan baik dan mengejar cita-cita.
“Forum ini menjadi sangat penting untuk melakukan langkah bersama, gerakan bersama, menciptakan lingkungan yang aman dan lingkungan yang memungkinkan anak-anak kita dapat tumbuh dengan gembira dalam mencapai cita-cita,” ujar Menteri Pendididikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, di Jakarta, Rabu (2/9).
Abdul Mu’ti menyebut langkah tersebut sejalan dengan kebijakan Presiden dalam membangun budaya ASRI. Budaya itu mencakup Aman, Sehat, Resik, dan Indah.
Selain itu, Kemendikdasmen terus mendorong sekolah agar membangun suasana yang aman dan nyaman. Pendekatan tersebut mengedepankan prinsip humanis, inklusif, dan partisipatif.
“Kami berupaya untuk menjadikan sekolah yang aman dan nyaman itu sebagai budaya dan lingkungan yang memungkinkan anak-anak kita dapat belajar dengan sebaik-baiknya dan dapat merasakan suasana kekeluargaan di dalam lingkungan sekolah mereka. Kami menggunakan pendekatan yang humanis, inklusif, dan partisipatif,” tuturnya.
Empat Pusat Pendidikan Punya Peran Penting
Abdul Mu’ti juga menekankan pentingnya sinergi empat pusat pendidikan. Keempatnya mencakup sekolah, keluarga, masyarakat, dan media.
Menurut dia, keempat lingkungan tersebut mempunyai peran dalam mendampingi anak. Peran itu semakin penting ketika anak berada pada masa pertumbuhan, membangun identitas, dan mencari ruang untuk mengekspresikan diri.
Keluarga menjadi salah satu lingkungan yang mendapat perhatian khusus. Hubungan yang baik antara orang tua dan anak dapat membantu menciptakan kondisi yang mendukung pencegahan paparan paham kekerasan.
“Tidak hanya educate, tetapi juga nurture. Tidak hanya mendidik, tetapi juga membimbing. Inilah yang menjadi penting, bagaimana membangun relasi dan keharmonisan keluarga sebagai faktor untuk mendukung program ini,” ujarnya.
Pendekatan tersebut juga berkaitan dengan Program 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Abdul Mu’ti secara khusus menyoroti kebiasaan bermasyarakat.
Ia menilai anak tetap membutuhkan kesempatan untuk berinteraksi dan menjadi bagian dari lingkungan sosial. Ruang sosial yang sehat dapat membantu anak mengembangkan kemampuan berkomunikasi sekaligus menyalurkan ekspresi secara positif.
Anak Perlu Ruang Aktualisasi yang Positif
Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa sebagian anak yang terpapar paham kekerasan dan radikalisme memiliki keterbatasan dalam ruang sosial dan ekspresi.
Karena itu, pendampingan perlu menggunakan pendekatan sosial yang humanis. Anak juga perlu mendapatkan ruang aktualisasi yang edukatif, produktif, dan bermanfaat.
Ruang tersebut dapat menyesuaikan dengan bakat serta minat masing-masing anak. Dengan demikian, lingkungan sekitar dapat membantu anak memperoleh pengakuan dan rasa aman tanpa harus mencari ruang ekspresi yang berisiko.
“Kita mendampingi mereka karena suasana aman, perasaan terlindungi, dan rasa di mana mereka mendapatkan pengakuan itu menjadi modal dan bekal yang penting untuk kita mendidik anak-anak kita menjadi generasi Indonesia yang hebat, generasi Indonesia yang kuat,” kata Mendikdasmen.











