Posted in

Liga Catur Kabupaten Tangerang Jadi Ajang Asah Strategi dan Cetak Grandmaster

Redaksi, Artistik News
Achmad Dimyati membuka Liga Catur Kabupaten Tangerang 2026
Wakil Gubernur Banten Achmad Dimyati Natakusumah saat membuka Liga Catur Kabupaten Tangerang 2026 di Gedung Serba Guna Kecamatan Pasar Kemis, Minggu, 23 Agustus 2026. Sumber foto: https://bantenprov.go.id. (Istimewa)

TANGERANG | ARTISTIKNEWS.COM – Liga Catur dan Putaran Ketiga Open Ngeround Non-Master Percasi Kabupaten Tangerang 2026 menjadi wadah bagi pecatur untuk mengasah kemampuan berpikir dan strategi. Wakil Gubernur Banten Achmad Dimyati Natakusumah membuka kegiatan tersebut di Gedung Serba Guna Kecamatan Pasar Kemis, Kabupaten Tangerang, Minggu, 23 Agustus 2026, dengan mendorong masyarakat menjadikan catur sebagai sarana melatih pola pikir.

Kompetisi itu mempertemukan 190 peserta dari 20 klub catur Kabupaten Tangerang. Salah satu peserta bahkan masih berusia 13 tahun.

Dimyati Dorong Catur Jadi Sarana Olah Pikir

Achmad Dimyati Natakusumah melihat catur memiliki nilai yang lebih luas daripada sekadar pertandingan. Menurutnya, setiap bidak dalam permainan memiliki peran dan harus saling mendukung.

Karena itu, ia mengajak masyarakat memanfaatkan catur sebagai sarana untuk melatih kemampuan berpikir. Ia menyampaikan pandangan tersebut saat membuka Liga Catur dan Putaran Ketiga Open Ngeround Non-Master Percasi Kabupaten Tangerang di Gedung Serba Guna Kecamatan Pasar Kemis.

“Kita masyarakatkan catur untuk olah pikir,” ungkap Dimyati saat membuka Liga Catur dan Putaran Ketiga Open Ngeround Non-Master Percasi Kabupaten Tangerang di Gedung Serba Guna Kecamatan Pasar Kemis, Jl Cempaka V Blok HL No. 12, Sukamantri, Kabupaten Tangerang, Minggu (23/8/2026).

Menurut Dimyati, setiap langkah dalam permainan catur membutuhkan pertimbangan. Pemain harus memikirkan langkah berikutnya sebelum menggerakkan bidak.

Filosofi Catur Mengajarkan Saling Menjaga

Dimyati juga melihat nilai kebersamaan dalam permainan catur. Setiap bidak memiliki fungsi dan pemain harus menjaga seluruh bagian permainan agar strategi berjalan dengan baik.

“Di catur semua berharga, semua dijaga. Maka di catur kita saling menjaga. Saling asah, asih, dan asuh,” tambahnya.

Filosofi tersebut, menurut Dimyati, dapat menjadi bagian dari pembelajaran bagi masyarakat. Permainan catur mengajarkan pemain untuk memperhitungkan pilihan dan mempertimbangkan konsekuensi dari setiap gerakan.

Dengan demikian, pertandingan catur tidak hanya menuntut kemampuan teknis. Pemain juga membutuhkan ketelitian dan kemampuan menyusun strategi sebelum menentukan langkah.

Terbaru Lainnya

```

Konten ini dilindungi. Kalau mau pakai atau mengutip, silakan izin dulu ya