Tahap Awal Fokus pada Area Rawan Banjir
Pada tahap pertama, pemerintah memusatkan pekerjaan pada jalur sepanjang 1,5 kilometer yang mencakup wilayah muara dan aliran sungai di Sukadana. Area tersebut menjadi salah satu titik yang dinilai cukup krusial karena sering memicu luapan air saat intensitas hujan meningkat.
Menurut Andra Soni, sedimentasi di jalur nelayan Karangantu sudah mencapai volume yang cukup besar sehingga membutuhkan penanganan serius.
“Sedimentasi di jalur nelayan Karangantu ini cukup tebal, diperkirakan mencapai 190 ribu kubik yang akan ditangani. Itu belum termasuk penanganan 80 bangkai kapal nelayan yang sudah puluhan tahun tidak ditangani,” ujarnya.
Keberadaan sedimentasi dan bangkai kapal dinilai mempersempit jalur aliran air serta mengganggu aktivitas di sekitar kawasan tersebut.
Penanganan Berlanjut pada Tahap Berikutnya
Selain pengerukan, pemerintah juga menyiapkan sejumlah rencana lanjutan untuk mendukung pengendalian banjir secara lebih menyeluruh.
Proposal yang telah diajukan kepada pemerintah pusat mencakup penataan kawasan sepanjang aliran Sungai Cibanten dan pengoptimalan Ruang Terbuka Hijau (RTH).
Pemerintah berharap langkah tersebut dapat mendukung sistem pengelolaan kawasan sungai agar berjalan lebih baik.
Pemerintah Ajak Warga Jaga Kebersihan Sungai
Di sisi lain, Andra Soni mengajak masyarakat ikut menjaga kondisi Sungai Cibanten agar program penanganan yang sedang berjalan dapat memberikan hasil maksimal.
Ia mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan sekitar sungai, termasuk tidak membuang sampah ke aliran air.
“Karena itu dampaknya akan menyebabkan banjir,” imbuhnya.
